Sejarah Kebudayaan Islam

Bab

Kerajaan Islam (1)

Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13  sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.

 

1.1  Isi Materi

 

  1. SAMUDRA PASAI

Dalam sejarah Indonesia, kerajaan Samudera Pasai dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Akan tetapi tidak banyak informasi tentang kerajaan ini sehingga tidak dapat diketahui secara pasti kapan berdiri dan runtuhnya kerajaan ini.

Rajanya yang pertama yaitu Malik al-Saleh(1290-1297). Setelah itu dilanjutkan oleh para keturunannya yaitu Sultan Muhammad Malik al-Thaher, Sultan Ahmad, dan Sultan Zaenal Abidin. Letaknya yang sangat strategis, yaitu di Lhokseumawe, membuat kerajaan ini berkembang pesat dengan perdagangannya. Meskipun kerajaan ini di bawah kekuasaan Majapahit, akan tetapi ekonomi mereka masih bisa berjalan dengan baik.

Menurut catatan yang ada, masyarakat Samudera Pasai adalah pedagang Islam yang tinggal di pesisir timur Sumatra. Mereka menganut madzab Syafi’I dan menggunakan emas sebagai mata uang.

Sebagian penduduk yang tinggal di pedalaman masih menganut adat Hindu-Budha. Dengan daerah pesisir dihuni masyarakat yang beragama Islam. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran Islam di Sumatra dan Malaka.

 

 

B . MALAKA

Kerajaan Malaka yang semula tumbuh di sekitar pelabuhan Malaka menjadi kerajaan islam yang paling berpengaruh di sekitar Selat Malaka. Pertumbuhan kerajaan ini dipengaruhi oleh ramainya perdagangan international Samudra Hindia, Selat Malaka dan Laut Cina Selatan dan perairan Nusantara yang dilakukan oleh para pedagang islam.

Awal berdirinya Malaka menurut versi sejarah Melayu dan Majapahit, kerajaan ini didirikan oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama Paramisora. Pangeran ini melarikan diri ke Tumasik dan kemudian ke Malaka. Bersamaan dengan tumbuhnya Malaka sebagai pelabuhan yang ramai, Paramisora menjadikan Malaka sebagai satu kerjaan dan dia sendiri sebagai rajanya yang pertama lalu dia mengganti nama dengan nama islam yaitu Iskandar Syah.

            2

Raja pertama Malaka ini digantikan oleh Muhammad Iskandar Syah (memerintah tahun 1414 – 1424) dan menikah dengan Putri Pasai, Sultan Mudzafat Syah, Sultan Mansyur Syah (1458 – 1477), Sultan Alaudin Syah (1477 – 1488) dan Sultan Mahmud Syah (1488 – 1511). Kerajaan ini mengalami keruntuhan setelah di rebut oleh Bangsa Portugis di bawah pimpinan Alfonso d Alburquerque tahun 1511. Dengan demikian, kekuasaan politik kerajaan Malaka hanya berlangsung selama kurang lebih satu abad.

Menurut versi lain mengenai sejarah Malaka disebutkan bahwa pelabuhan Malaka sebelumnya tidak memiliki kekuasaan politik kecuali sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai bangsa, terutama yang beragama islam, di jalur perdagangan tersebut.

Selama kurang lebih satu abad, kerajaan ini memiliki pengaruh politik atas kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Selat Malaka. Hubungan politik dan dagang dengan Gujarat, Cina dan Benggala serta pelabuhan-pelabuhan di Jawa terpelihara dengan baik. Semakin lemahnya kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa menyebabkan Kerajaan Malaka tidak memiliki saingan di Selat Malaka. Tapi, hubungan dengan Cina tetap di jaga agar tidak menjadi ancaman bagi Malaka dalam memainkan politik dan dagangnya di kawasan ini.

Pelabuhan Malaka menjadi pusat kegiatan ekonomi bukan hanya untuk Kerajaan Malaka melainkan juga untuk kawasan Indonesia. Dengan demikian, pelabuhan Malaka berfungsi sebagai pelabuhan international. Ada beberapa hal yang dapat dikemukakan mengenai perdagangan di Malaka.

Pertama, raja dan pejabat tinggi kerajaan terlibat dalam kegiatan dagang. Selain itu, mereka juga menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan pelayaran dan menjual barang melalui kapal-kapal milik pedagang lain. Kekayaan yang diperoleh dari perdagangan tersebut digunakan untuk membangun istana, masjid yang indah, hidup mewah, serta membangun dan memelihara pelabuhan.

Kedua, pajak bea-cukai yang dikenakan pada setiap barang dibedakan atas asal barang. Misalnya barang yang berasal dari Barat dikenakan bea sebesar 6%, sedangkan barang Timur termasuk pedagang dari kepulauan Nusantara tidak dikenakan bea. Namun para pemilik barang harus membayar upeti kepada raja dan para pembesar pelabuhan seperti syahbandar dan tumenggung.

Ketiga, perdagangan dijalankan dalam dua jenis, yaitu 1) pedagang memasukkan modal dalam barang dagangan yang diangkut dengan kapal untuk dijual ke negeri lain, dan 2) pedagang menitipkan barang kepada nahkoda atau meminjamkan uang kepada nahkoda yang akan membagi, keuntungannya dengan pedagang yang memberi modal. Raja dan keluarganya juga terlibat dalam kedua jenis tersebut.

Keempat, agar perdagangan berjalan lancar, kerajaan mengeluarkan berbagai undang-

undang itu diatur masalah syarat-syarat sebuah kapal untuk berlayar, nama-nama jabatan dan tanggung jawabnya, saat berlabuhnya kapal di pelabuhan, sebagainya. Agar komunikasi berjalan lancar di antara pedagang dan pembeli, Bahasa Melayu digunakan sebagai pengantar terutama bagi bangsa-bangsa yang berasal dari kawasan Nusantara.

3

Kehidupan politik di Malaka berpusat pada strukrur politiknya. Di puncak kekuasaan terdapat seorang raja yang membawahi patih yang disebut Paduka Raja di Malaka. Patih membawahi semua pejabat tinggi kerajaan, seperti bendahara, bupati dan seterusnya. Di bawah patih terdapat bendahara yang memegang urusan pengadilan, pajak, keuangan dan memiliki wewenang menjatuhkan hukuman mati. Adapun laksamana yang tugasnya memimpin angkatan laut dan semua kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Malaka. Bisa juga berperan sebagai pengawal keluarga raja dan seluruh keluarga.

Urusan perdagangan dipegang oleh tumenggung atau kepala pemerintahan kota yang juga memiliki kewenangan dalam urusan pajak dan perdagangan di wilayahnya. Sejajar dengan tumenggung adalah para syahbandar yang memiliki kekuasaan politik atas pelabuhan-pelabuhan di Malaka terdapat syahbandar-syahbandar yang tugasnya mengurusi pedagang-pedagang asing. Di tingkat lebih bawah terdapat golongan bangsawan yang juga memiliki, kekuasan politik di daerah tertentu. Bangsawan-bangsawan tersebut kebanyakan berasal dari suku Melayu. Adapun golongan ksatria yang sangat ditakuti dan dihormati. Gaya hidupnya sangat foedal, hidup mewah dengan berbagi lambang kebesaranya.

Gaya hidup foedal raja, pembesar dan golongan bangsawan berakibat pada melemahnya Malaka di bidang politik dan pertahanan. Mereka menjadi lupa akan pertahanan negara. Dengan demikian, ketika bangsa Portugis datang ke Malaka dan berambisi menaklukkan kekuatan-kekuatan islam, Malaka tidak memiliki persiapan untuk menghadapinya. Dengan mudah kerjaan ini dapat ditaklukan bangsa Portugis pada 1511.

Karya Ditulis Oleh : Tresna Maulana F

copyright @tresnamaulanaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s